H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Minggu, 26 Juli 2026

A Desire to Draw Near To God

 *A Desire to Draw Near to God*

[Kerinduan Untuk Datang Kepada Allah]


*Mazmur 122:1,* _"Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN"._


Beberapa kata penting dari ayat ini: ada kata *samachti =* Aku bersukacita, sangat bergembira.→ Kata ini bukan sekadar senang sesaat, tetapi sukacita yang muncul dari hati karena mengalami berkat dan kehormatan. Lalu ada kata *be'omrim li =* ketika mereka berkata kepadaku. → Bentuk katanya menunjukkan ada ajakan yang terus disampaikan atau menjadi kebiasaan, bukan sekadar satu kali. Kemudian ada kata *Beit YHWH =* Rumah TUHAN. →Pada zaman Daud, ini menunjuk kepada tempat kehadiran Allah, tempat umat berkumpul untuk menyembah-Nya. Serta ada kata *nelekh =* mari kita pergi atau kita akan pergi.→Bentuk ini menunjukkan ajakan bersama. Ibadah bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi juga perjalanan iman sebagai komunitas umat Allah. Esensinya, Daud mengungkapkan bahwa sukacita sejati muncul ketika ia diajak untuk datang ke hadapan Tuhan bersama umat-Nya.


Namun yang membuatnya bersukacita bukan terutama bangunannya, tetapi *kesempatan untuk mengalami hadirat Allah,* beribadah, dan bersekutu dengan sesama orang percaya. Selanjutnya, Mazmur ini juga termasuk Nyanyian Ziarah, yaitu nyanyian yang dinyanyikan umat Israel ketika mereka melakukan perjalanan menuju Yerusalem untuk merayakan hari-hari raya. Jadi, ayat ini menggambarkan *antusiasme rohani,* kerinduan kepada Allah, dan sukacita dalam kebersamaan umat-Nya. Sebagai penerapannya: _pertama,_ *Peliharalah kerinduan untuk beribadah kepada Tuhan.*→Ibadah tidak seharusnya dipandang sebagai kewajiban semata, namun sebagai kesempatan berjumpa dengan Tuhan. Hati yang mengasihi Allah akan memandang ibadah sebagai sukacita, bukan beban. _Kedua,_ *Hargai pentingnya persekutuan dengan sesama orang percaya.*→kalimat _"mari kita pergi"_ menunjukkan bahwa pertumbuhan iman juga terjadi dalam kebersamaan. Saling menguatkan, berdoa, dan beribadah bersama merupakan bagian dari kehidupan rohani yang sehat. Dan _ketiga,_ *Jadilah pribadi yang mengajak orang lain mendekat kepada Tuhan.* →Daud bersukacita sebab ada orang yang mengajaknya. Demikian juga, setiap orang percaya dapat menjadi penggerak yang mengundang keluarga, teman, atau sesama untuk semakin mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam iman melalui kasih, teladan, dan ajakan yang tulus.


Intinya, sukacita rohani yang sejati lahir dari kerinduan untuk datang kepada Allah, menikmati hadirat-Nya bersama umat-Nya, dan mengajak orang lain ikut mengalami persekutuan dengan-Nya. Secara prinsip, dimana ibadah yang benar dan berkenan dimulai dari sikap hati yang hormat serta takut akan Tuhan.  Dengan demikian bahwa ibadah bukan semata sekedar menjalankan ritual keagamaan, sebagaimana banyak agama yang melakukan demikian, tanpa mengutamakan esensinya. Sebagaimana dalam Injil, ibadah selayaknya seseorang atau siapapun perlu mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan, tinggal di hadirat-Nya, bersekutu serta bergaul intim dengan-Nya. Natanael sendiri berjumpa dengan Mesias sebagai efifani Allah ketika ia kusuk "bersemedi" di bawah pohon ara. Wanita Samaria berjumpa dengan Kristus di sumur Yakub. Jadi seseorang harus menyembah Allah dalam _*Roh dan Kebenaran,*_ inilah sebagai esensi ibadah. Maka ibadah bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan respons hati yang rindu kepada Tuhan dan menemukan kepenuhan sukacita di dalam-Nya. Richard J. Foster yang memaknai akan ibadah bukan sekadar ritual, namun perjumpaan dengan Allah yang hidup. Foster menyatakan, _"To worship is to experience Reality, to touch Life"_ [Beribadah berarti mengalami Realitas yang sejati, menyentuh Kehidupan itu sendiri].


*SEMANGAT PAGI & TETAP SEMANGAT*






Tidak ada komentar:

Posting Komentar