AH... DIA BUKAN TYPE GUA, BANG!
MENGUBAH PARADIGMA MENCARI PASANGAN MENURUT HATI TUHAN
"Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
(1 Samuel 16:7)
________________________________________
SEBUAH KISAH MAK COMBLANG
Beberapa waktu lalu saya dan seorang sahabat begitu bersemangat menjadi "mak comblang."
Ada seorang pria berusia 31 tahun. Anak sulung. Orang tuanya sudah lama berharap ia segera menikah. Kerinduan itu semakin besar karena sang ayah sedang berjuang melawan kanker stadium empat. Saya cukup dekat dengan keluarga mereka sehingga mengetahui betapa besar harapan itu.
Di sisi lain, ada seorang perempuan yang juga berusia 31 tahun. Keluarganya pun mulai mendesaknya untuk menikah. Kami mengenal keduanya sebagai pribadi yang baik, aktif melayani, dan mengasihi Tuhan.
Dalam hati kami berpikir,
"Bukankah ini pasangan yang cocok?"
Kami mengatur sebuah pertemuan.
Awalnya semua berjalan sesuai rencana. Kami menemani mereka berbincang, lalu sengaja meninggalkan mereka berdua dengan alasan ada urusan lain. Bahkan si pria mengantar pulang si perempuan.
Dalam hati saya mulai membayangkan,
"Wah... kali ini berhasil."
Keesokan paginya saya langsung menelepon si pria.
"Gimana?"
Jawabannya hanya satu kalimat.
"Ah... dia bukan tipe gua, Bang."
Kalimat itu begitu singkat, tetapi membuat semua harapan kami seolah runtuh.
Padahal ayahnya pernah berkata kepada saya,
"Carikan saja perempuan yang takut akan Tuhan. Soal rupa itu relatif."
Namun ternyata, apa yang dianggap penting oleh orang tua belum tentu menjadi ukuran utama bagi anaknya.
________________________________________
KETIKA "TIPE" MENJADI PENENTU
Peristiwa itu membuat saya merenung.
Sebenarnya, apa yang sedang kita cari ketika mencari pasangan hidup?
Apakah seseorang yang dapat membawa kita semakin dekat kepada Tuhan?
Ataukah seseorang yang sesuai dengan daftar panjang yang kita buat sendiri?
Banyak orang memiliki daftar impian.
Harus cantik.
Harus tampan.
Harus mapan.
Harus romantis.
Harus pengertian.
Harus berasal dari keluarga yang baik.
Harus memiliki pekerjaan yang bagus.
Daftarnya bisa sangat panjang.
Yang menarik, hampir semua daftar itu berpusat pada satu kata:
Aku.
"Aku ingin dimengerti."
"Aku ingin dicintai."
"Aku ingin diperhatikan."
"Aku ingin diterima apa adanya."
Tanpa sadar, pusat pencarian pasangan bukan lagi kehendak Tuhan, melainkan kepuasan diri.
Padahal Firman Tuhan berkata,
"Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."
(Filipi 2:4)
________________________________________
MENCARI ATAU MENJADI?
Di dalam pelayanan, saya sering mendengar doa seperti ini.
"Tuhan, tunjukkan siapa pasangan yang tepat."
Doa itu tidak salah.
Tetapi saya percaya ada doa yang jauh lebih penting.
"Tuhan, jadikan aku pasangan yang tepat."
Bayangkan jika setiap pria berdoa agar menjadi suami yang takut akan Tuhan.
Bayangkan jika setiap wanita berdoa agar menjadi istri yang berkenan kepada Tuhan.
Bukankah persoalan "siapa yang mendekati siapa" akan jauh lebih sederhana?
Karena dua orang yang sama-sama dibentuk Tuhan akan lebih siap membangun rumah tangga yang sehat.
Daripada membuat daftar 20 kriteria pasangan idaman, mengapa tidak membuat daftar 20 karakter yang harus saya miliki sebelum menikah?
Misalnya:
• rendah hati,
• sabar,
• setia,
• mampu mengampuni,
• rajin bekerja,
• bertanggung jawab,
• suka melayani,
• memiliki kehidupan doa,
• menguasai diri,
• mengasihi Tuhan lebih daripada mengasihi diri sendiri.
Bukankah daftar seperti ini justru akan mempersiapkan kita menjadi pasangan yang diberkati?
________________________________________
KALAU YESUS MENJADI MAK COMBLANG...
Di tengah semua perenungan itu, tiba-tiba saya membayangkan sesuatu.
Bagaimana jika Yesus sendiri menjadi mak comblang?
Bayangkan Yesus datang kepada kita lalu berkata,
"Anak-Ku, Aku sudah menyiapkan seseorang untuk mendampingimu seumur hidup."
Apa pertanyaan pertama yang akan keluar dari mulut kita?
"Dia cantik, Tuhan?"
"Dia ganteng?"
"Dia kaya?"
"Dia dokter?"
"Dia pengusaha?"
"Dia tinggi?"
"Dia putih?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sangat wajar.
Tetapi pernahkah kita bertanya,
"Apakah dia akan menolongku semakin mengasihi Tuhan?"
Ketika Allah memilih Daud menjadi raja, semua orang melihat penampilan luar.
Samuel hampir memilih Eliab karena posturnya tinggi dan wajahnya gagah.
Tetapi Tuhan berkata,
"Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi... Sebab bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
(1 Samuel 16:7)
Jika Tuhan melihat hati ketika memilih seorang raja, mengapa kita justru lebih sibuk melihat wajah ketika memilih pasangan hidup?
Saya percaya, jika Yesus menjadi mak comblang, Dia tidak akan berkata,
"Aku sudah menemukan yang paling cantik untukmu."
Tetapi mungkin Dia akan berkata,
"Aku menemukan seseorang yang akan membawamu semakin dekat kepada-Ku."
Dan bukankah itulah tujuan pernikahan?
Rasul Paulus menulis,
"Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya."
(Efesus 5:25–26)
Pernikahan bukan sekadar tempat mencari kebahagiaan.
Pernikahan adalah tempat Allah membentuk dua orang berdosa menjadi semakin serupa dengan Kristus.
Lalu saya membayangkan lagi...
Bagaimana jika Yesus memperkenalkan seseorang kepada kita, tetapi kita hanya menjawab,
"Maaf Tuhan... dia bukan tipe saya."
Bukankah tanpa sadar kita sedang berkata,
"Tuhan, selera saya lebih saya percayai daripada hikmat-Mu."
Kalimat itu terdengar keras.
Namun sering kali itulah yang terjadi.
Kita meminta Tuhan memilihkan pasangan.
Tetapi kita tetap ingin Tuhan mengikuti daftar yang telah kita susun.
Padahal Firman Tuhan mengingatkan,
"Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalan-Ku."
(Yesaya 55:8–9)
________________________________________
Penutup
Mungkin selama ini doa kita perlu diubah.
Bukan lagi,
"Tuhan, tunjukkan siapa pasangan yang tepat."
Melainkan,
"Tuhan, bentuklah aku menjadi pasangan yang tepat."
Sebab ketika dua orang sama-sama dibentuk oleh Tuhan, mereka tidak hanya menemukan pasangan hidup.
Mereka menemukan seorang sahabat seperjalanan menuju kekekalan.
Jadi, sebelum kita berkata,
"Ah... dia bukan tipe gua, Bang."
marilah kita bertanya lebih dahulu,
"Apakah aku sudah menjadi tipe pasangan yang Tuhan kehendaki?"
Karena pada akhirnya, bukan "tipe" yang akan mempertahankan sebuah pernikahan.
Bukan pula wajah, harta, atau status.
Yang menopang sebuah rumah tangga adalah kasih yang berakar di dalam Kristus, karakter yang terus dibentuk oleh Roh Kudus, dan komitmen untuk saling membawa pasangan semakin dekat kepada Tuhan.
"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."
(Amsal 3:5–6)
Soli Deo Gloria
Harapan L. Toruan
(Ijin Meneruskan )
________________________________________

Tidak ada komentar:
Posting Komentar