*Going Through a Life Change*
[Mengalami Perubahan Hidup]
*Matius 9:12 ,* _"Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit"._
Yesus menggunakan gambaran seorang dokter untuk menjelaskan misi-Nya. Seorang dokter datang untuk menolong orang yang sakit; demikian pula Yesus datang untuk mencari, memanggil, dan memulihkan orang-orang yang menyadari bahwa mereka membutuhkan pertolongan Allah. Perlu diperhatikan bahwa Yesus tidak sedang mengajarkan bahwa sebagian manusia sama sekali tidak berdosa atau tidak membutuhkan Allah. Dia sedang menyingkapkan sikap orang Farisi yang merasa diri benar dan memandang rendah orang lain. Untuk pengertian rohaninya: _*1). Yesus adalah Tabib bagi jiwa yang sakit.*_→Dalam konteks ayat ini, penyakit bukan hanya menunjuk pada penyakit fisik, melainkan menjadi gambaran keadaan manusia yang berdosa dan membutuhkan pemulihan rohani. Yesus tidak datang hanya untuk orang yang dianggap baik oleh masyarakat. Dia datang juga untuk mereka yang gagal, tersesat, terluka, dan membutuhkan pertobatan. Seperti dokter yang menerima pasien karena pasien itu sakit, Yesus menerima orang berdosa supaya mereka memperoleh kesempatan untuk berubah. _*2). Mengakui dosa adalah langkah awal menuju pemulihan.*_→Orang yang merasa dirinya sehat tidak merasa perlu mencari dokter. Demikian pula, orang yang merasa dirinya selalu benar sering kali sulit melihat kesalahan dalam dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang menyadari dosanya dapat datang kepada Tuhan dengan hati yang rendah hati, mengakui kesalahannya, dan menerima pengampunan-Nya. Ini bukan berarti kita harus menjadi sempurna dahulu sebelum datang kepada Yesus. Justru kita datang kepada-Nya karena membutuhkan pertolongan-Nya. _*3). Yesus datang untuk memulihkan, bukan sekadar menghakimi.*_→pada ayat 13, _“Karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa,"_ maksudnya, Yesus datang untuk memanggil orang berdosa kepada pertobatan. Dia tidak membenarkan dosa, tetapi memberikan jalan agar manusia meninggalkan dosa dan mengalami perubahan hidup.
Dengan demikian, kasih Yesus bukanlah izin untuk terus berbuat dosa, melainkan undangan untuk menerima kasih karunia dan hidup dalam pembaruan. Sebagai penerapannya: *① Dengan berani mengakui kelemahan dan dosa di hadapan Tuhan.*→Jangan menutupi dosa, kesombongan, kemarahan, iri hati, atau kepahitan di hadapan Tuhan. Datanglah kepada-Nya dengan jujur dan mintalah pengampunan serta kekuatan untuk berubah. Inti penerapan: Pemulihan dimulai ketika kita berhenti berpura-pura baik dan bersedia ditolong Tuhan (1 Yohanes 1:9). *② Dengan tidak menghakimi orang yang sedang jatuh dalam dosa.*→Belajarlah melihat orang yang bersalah bukan hanya dari kesalahannya, tetapi juga sebagai manusia yang membutuhkan pertolongan dan kesempatan untuk bertobat. Contoh: Ketika seorang teman melakukan kesalahan atau seseorang memiliki masa lalu yang buruk, jangan langsung mempermalukan atau mengucilkannya. Dengarkan dengan bijaksana, tegur dengan kasih jika diperlukan, dan arahkan dia kepada kebenaran Tuhan. Inti penerapan: Jangan hanya menjadi orang yang menunjukkan kesalahan; jadilah orang yang membantu sesama menemukan jalan pemulihan (Galatia 6:1). *③ Dengan membawa orang yang membutuhkan kepada Yesus.*→Jika Yesus adalah Tabib bagi jiwa, kita dipanggil untuk menolong orang lain mengenal Dia. Kita tidak perlu menunggu sampai seseorang menjadi baik atau sempurna untuk menunjukkan kasih Kristus kepadanya. Kita tidak dapat mengubah hati orang dengan kekuatan sendiri, tetapi kita dapat menjadi saluran kasih dan kebenaran Tuhan. Inti penerapan: Jangan menjauh dari orang yang membutuhkan pertolongan rohani; hadirkan kasih Kristus sambil tetap berpegang pada kebenaran (Lukas 5:31–32). Kita datang kepada Kristus bukan karena kita sudah sempurna, melainkan karena kita membutuhkan kasih karunia-Nya.
Hal lainnya, bahwa ada situasi rohani yang paling berbahaya yaitu saat seseorang berbuat dosa namun merasa dirinya benar. Seseorang yang sadar sedang sakit masih dapat mencari pertolongan, namun orang sakit yang sehat akan menolak tabib dan menganggap pengobatan tidak diperlukan. Seperti itulah keadaan para Farisi saat mereka melihat Yesus makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka bisa ta'u kesalahan orang lain secara cepat, tetapi ketelitian tersebut tidak disertai kemampuan melihat keadaan hati sendiri. Anggapan mereka bahwa ketaatan atas aturan dan persembahan keagamaan adalah bukti mereka sehat di penilaian Allah. Namun, sikap menghakimi, kesombongan, dan ketiadaan belas kasihan mempertontonkan penyakit rohani yang serius. Tentu seorang dokter yang baik tidak membenci pasien karena penyakitnya, lalu juga tidak membiarkan penyakit tersebut tanpa penanganan. Pemungut cukai menyadari buruknya reputasi mereka; pada sisi lainnya orang Farisi tidak menyadarinya sebab merasa benar, dan tidak instropeksi, akhirnya menolak pekerjaan Allah yang ada di hadapan mereka. Lalu perkataan Yesus di ayat 13 sangat tajam sebab disampaikan pada orang-orang yang menganggap dirinya ahli dalam Kitab Suci. Mereka tau teksnya, namun tidak memahami hati Allah. Jadi ilmu yang tidak mengubah watak akan melahirkan kesombongan rohani. Seseorang bisa saja rajin beribadah, memberi persembahan, menguasai doktrin, dan aktif melayani, namun tetap keras, tidak mengampuni, dan tidak peduli terhadap orang yang terhilang. Maka belas kasihan sebagai ujian apakah kehidupan keagamaan seseorang benar berpusat pada Allah atau pencitraan diri semata. Allah bukan sedang meniadakan ibadah atau persembahan, namun Dia menolak ibadah yang dipisahkan dari ketaatan dan belas kasihan. Parameter kebenaran bukanlah perbandingan dengan orang yang lebih buruk, tetapi kesesuaian hidup seseorang dengan kehendak Bapa. Belas kasihan yang benar berani menyebut dosa sebagai dosa, lalu tetap membuka jalan pertobatan bagi pelakunya. Dia tidak mempermalukan orang untuk meninggikan diri, namun akan menolongnya bangkit lalu kembali kepada kehendak-Nya. Agustinus memaknai bahwa kedewasaan terlihat ketika kita mampu memeriksa hati sendiri, menerima teguran, dan bersedia memperbaiki kesalahan, ia menyatakan, _“This is the very perfection of a man, to find out his own imperfections”_ [Kesempurnaan sejati seorang manusia adalah ketika ia menyadari ketidaksempurnaan dirinya sendiri].
*SEMANGAT PAGI & TETAP SEMANGAT*


This is the very perfection of a man, to find out his own imperfections.
BalasHapusAmen
BalasHapus