Santapan Harian
Berkat Mendahului Kesetiaan
1 Raja-raja 8:54-66
Manusia cenderung tak pernah puas atas miliknya. Makin banyak yang dimiliki, makin banyak pula yang diinginkan. Jadi, makin banyak kebaikan Tuhan yang didapat, makin banyak lagi yang diminta. Bagaimana dengan Salomo, apakah demikian juga?
Setelah sukses mendirikan Bait Suci, Salomo tidak meminta untuk diberi lebih banyak keberhasilan. Sebaliknya, dia memohon supaya TUHAN selalu menyertai bahkan mencondongkan hati umat kepada TUHAN sendiri (57-58). Hal itu ditegaskan lagi dalam ajakannya kepada umat, supaya tetap senantiasa setia kepada TUHAN (61).
Tampak Salomo sangat menyadari keberadaan dirinya dan seluruh umat Israel. Keberhasilan mereka memiliki Bait Suci bukan karena daya upaya mereka sendiri, melainkan karena anugerah TUHAN. Oleh karena itu, sudah selayaknya, dalam sukacita pesta penahbisan Bait Suci itu, mereka merendahkan hati untuk mengakui kemahakuasaan TUHAN (62-66).
Salomo sadar bahwa dalam kelemahan sebagai manusia, sesudah mendapat kesenangan, mereka bisa saja menjadi sombong dan melupakan Tuhan. Itulah sebabnya, dia memohon supaya seluruh umat diberi hati yang selalu condong kepada TUHAN dan setia sepenuhnya kepada-Nya. Kesadaran ini menolong Salomo untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dengan rendah hati.
Sikap seperti itu kiranya juga ada dalam diri kita. Tak layak kalau kita menjadi serakah, ingin lebih dan lebih lagi. Sebaliknya, mestinya kesadaran akan berkat Tuhan membuat kita makin merendahkan hati di hadapan-Nya dan menjadikan segala pencapaian sebagai alasan untuk tunduk kepada Tuhan.
Dengan demikian, kita setia kepada Tuhan bukan demi mendapatkan berkat. Sebaliknya, justru karena kita sudah diberkati, kita tunduk dan setia kepada-Nya sebagai bentuk syukur dan bakti kita. Hari ini kita hidup bukan untuk menggapai lebih banyak berkat. Kita hidup untuk mensyukuri berkat Tuhan dan memeliharanya dengan kesetiaan kepada-Nya. [KRS]

Dengan demikian, kita setia kepada Tuhan bukan demi mendapatkan berkat.
BalasHapusAmen
BalasHapus